Postingan

Suara Pemilih Pemula

Gambar
Foto: KPU Pangkep Memasuki gedung sekolah SMA Negeri 11 Pangkep pada Kamis, 27 Juni lalu, suasana terlihat lengang. Jejeran sepeda motor siswa yang biasanya ramai terparkir di halaman gedung juga bisa dihitung jari sekali tatap. Tampak, beberapa siswa bercengkerama namun tidak memakai seragam lengkap. Ada yang memakai celana sekolah tetapi memakai kaus oblong. Begitulah yang terjadi di sisa hari menjelang libur. Usai bertanya kepada siswa yang baru saja memarkir sepeda motornya tentang lokasi Aula, ia mengarahkan telunjuknya agar saya mengikuti jalan yang nantinya mentok dan belok kanan. Denah bangunan sekolah yang dulunya bernama SMA 2 ini banyak yang berubah. Tak seperti ketika mengunjunginya tujuh tahun lalu. Di bagian dalam gedung juga ada taman dilengkapi tempat duduk permanen berupa susunan batu bata yang diplester. Saya membayangkan cengkerama siswa berlangsung di situ di jam istirahat. Sesampai di Aula, seperti biasa bila akan digunakan pertemuan, jejeran k...

Mengetuk Pintu Demokrasi Melalui Cerpen dan Puisi

Gambar
Buku ini merupakan kurasi naskah dari lomba menulis cerpen dan puisi bagi pemilih pemula yang digelar oleh Lentera Management dan KPU Pangkep tahun 2019. Terdapat sepuluh cerpen dan lima puluh puisi yang masuk sepuluh besar penjurian. Sebagian besar muatan cerpen dan puisi memang tidak lepas dari isu poltik uang yang dijadikan asumsi betapa rusaknya proses demokrasi. Di area itulah para peserta bertarung kreativitas dan keunikan sudut pandang dalam bersaksi. Data Buku Judul : Mengetuk Pintu Demokrasi Melalui Cerpen dan Puisi Penulis : Aisyah Akhsana Fauziah, dkk Tahun : Mei, 2019 Ukuran : Xviii + 131 Hal. 14,8 x 21 cm ISBN : 978-602-61603-2-4

Penerbitan Penyadaran

Rumah Saraung menjadikan penerbitan sebagai jalan dialog. Lebih jauh, sejak mula dilahirkan, Rumah Saraung berperan sebagai penyedia perkakas yang dapat diakses bersama dalam mewujudkan publikasi. Posisi politik Rumah Saraung dalam iklim perbukuan berada dalam ruang tengah yang menjadikan dirinya sebagai komunitas sekaligus ruang kerja dalam proses pendidikan penyadaran, pengarsipan, dan ruang dialog agar terbangun pluralitas dalam masyarakat. Rumah Saraung menerbitkan buku yang kami namai penerbitan penyadaran dalam dua kategori. Pertama , Rumah Saraung akan memproduksi naskah bilamana dianggap perlu untuk advokasi, media pendidikan kritis. Seluruh biaya produksi akan ditanggung oleh penerbit.  Kedua , penerbitan mandiri dilayani jika ada tawaran dari penulis yang ingin naskahnya diproses terbitkan menjadi buku di mana dibiayai oleh penulis itu sendiri. Rumah Saraung hanya membantu pengurusan ISBN, desain sampul, layout, percetakan, dan publikasi. Jika pe...

Sepakbola Sebagai Ruang

Gambar
BERTAHUN-tahun sebelumnya sejak sepakbola mulai dimainkan dan dibicarakan, maka bertahun-tahun selanjutnya akan tetap dimainkan dan dibicarakan pula. Generasi pemain bola di lapangan sebagaimana pecinta bola di pinggir lapangan akan bergantian lahir dan hadir. Ini bukan hanya di kota, literasi bola di daerah – kota kecil mulai menggeliat. Di kota kecil tempat saya tinggal, Pangkep, Sulawesi Selatan. Berjarak sekitar 50 km sisi utara kota Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Membicarakan bola di warung kopi sama lumrahnya membincang politik lokal walau miskin imajinasi relasional. Bola tetap bola dan politik berjarak. Tak dimungkiri, generasi milenial doyan menonton ulangan pertandingan di You Tube dengan leluasa bisa mereka putar berulangkali. Rombongan ini tidak sedikit dan mereka bahagia karena pertandingan yang berlangsung jauh sebelum mereka dirancang untuk dilahirkan dengan mudah berlari ke masa lalu. Menikmati berengseknya Maradona meludahi Inggris dengan gol ...

Kenali Pangkepmu - Beberapa Hal yang Perlu Diketahui

Gambar
Buku ini berisi naskah yang pernah dimuat di Saraung.Com. Muatan buku dibagi tiga tema: Kampung Kita , Komunitas , dan Paragraf sesuai nama rubrik naskah itu dimuat. Tidak semua naskah di Paragraf dan Komunitas dirangkum karena sejumlah pertimbangan. Demikian juga di Kampung Kita. Ketika di posting di website ada beberapa naskah yang ditautkan ke rubrik yang lain. Hal itu menunjukkan bila naskah tersebut tidak murni masuk ke dalam rubrik Komunitas, misalnya, tetapi memiliki kaitan dengan rubrik Paragraf, Kampung Kita atau di rubrik yang lain. Naskah yang terangkum di Warta Foto, Sastra, Pustaka, dan Sosok tidak dimasukkan dalam buku ini. Pertimbangannya, kalau Warta Foto narasinya pendek dan tidak laik jika fotonya tidak ikut dimuat. Naskah Pustaka dianggap kurang sebagaimana naskah Sosok. Sedangkan naskah Sastra, kami berencana menerbitkannya terpisah jika sudah memenuhi syarat. Tagline Saraung.Com: Kenali Pangkepmu dipilih sebagai judul buku dengan keterangan...

Catatan Nhany-Kuliner, Peristiwa, Perjalanan

Gambar
Nhany Rahcman Khan berpose dengan bukunya CATATAN di buku ini sudah dimuat di perempuanpangkep.com di sepanjang tahun 2016. Niat kami dari penerbit memilih sejumlah naskah yang dirasa perlu untuk dibukukan merupakan langkah dalam mengorbitkan karya penulis muda di Pangkep. Penerbit menyadari kalau naskah yang ditulis Nhany Rachman Khan amatlah temporal termasuk menceritakan suatu peristiwa yang pernah menguak dan menjadi perbincangan khalayak di Pangkep yang, tentu ketika peristiwa itu kembali dibaca di masa kini akan mengantar pembaca yang mengetahui kisah itu kembali berjalan ke masa lalu. Tetapi, bagaimana dengan pembaca yang tidak mengetahuinya. Ini suatu pertaruhan sebab, membutuhkan referensi tambahan. Namun, mengatasi situasi itu terbantukan dengan arsip di dunia maya. Pembaca bisa mencarinya di mesin pencari Google guna mengecek apakah peristiwa tersebut pernah menjadi isu bagi media atau tidak. Tantangan lain yang disadari ialah, catatan Nhany juga sangat p...

Rumah Saraung

Di Sulawesi Selatan, industri perbukuan dimulai dari universitas di medio   90-an dan baru mulai begeser ke lembaga swasta di awal tahun 2000-an. Semua itu dipicu perkembangan teknologi cetak yang membuat ongkos produksi bisa ditekan seminimal mungkin. Sejarah Singkat PROYEK penerbitan majalah sastra, kemudian buku, di bawah bendera Lentera harus dimuseumkan. Banyak hal yang menyebabkan hal itu terjadi. Pangkal masalahnya bukan pada konflik perebutan kekuasaan apalagi pertengkaran menyangkut uang. Juga, jangan bayangkan adanya gesekan perbedaan cara pandang. Kami, yang pernah sama-sama mendirikan Lentera tetap menjalin keakraban, malah semakin sublim. Ulasan mengenai kiprah Lentera sebagaimana saya tulis di Pocer Dot Co.  Lentera: Upaya Menjadi Pelopor Penerbitan di Tanah Pangkep  ( http://pocer.co/read/lentera-upaya-menjadi-pelopor-penerbitan-di-tanah-pangkep  atau  https://kamar-bawah.blogspot.com/2018/06/lentera-upaya-menjadi-pelopor.ht...